SEMINAR WIFI 2013 “Technopreneurship Is Our Life”

PROFIL PEMBICARA :

Adam Ardisasmita ( CEO ARSANESIA )

Adam-Ardisasmita

Salah seorang dari pembicara di acara seminar ini ialah Adam Ardisasmita, seorang CEO dari Arsanesia, sebuah industri yang bergerak dibidang ”Digital Entertainment”. Beliau juga pernah memenangkan penghargaan dari Nokia sebagai Nokia Developer Champion. Di acara seminar, beliau akan memberi tips dan trik untuk bisa berhasil di dunia Digital Entertainment, khususnya didunia Game Developing.

PROFIL ADAM ARDISASMITA :

  • Chief Executive Officer di Arsanesia Entertainment (Perusahaan Perseorangan)
  • Vice President of Nokia Indonesia Community Enthusiast (NICE) diNokia Indonesia Community Enthusiast

sebelumnya Ia bekerja sebagai :

  •  Internship Programmer di Bank Rakyat Indonesia
  • Business Analyst di Pribadi International School,
  • Bandung Lecture assistant di Institut Teknologi Bandung Pendidikan

Adam Ardisasmita bersekolah di MAN Insan Cendekia Serpong, dan pendidikan terakhirnya adalah kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB)

Adam Ardisasmita  adalah Founder and CEO of a mobile games company, Arsanesia. Seoramg Vice President of Nokia Indonesia Community Enthusiast. Adam Ardisasmita juga seorang passionate speaker, influencer, and blogger, terakhir Adam Ardisasmita ini sangat menyukai mengeluarkan ide kreatifnya yang tidak biasa untuk memeccahkan suatu masalah.

Adam Ardisasmita adalah orang yang spesialis di bidang business, startup, kepemimpinan, komunikasi, manajemen,  teknologi perangkat selular, industri game.

 

rangkuman materi : Di tengah maraknya kasus klaim kebudayaan Indonesia, Adam Ardisasmita, Dea Renata, M. Ikhsandana, Hazki Hariobowo, dan Khairul Annas membentuk Arsanesia, kelompok yang bertujuan melestarikan dan mempromosikan kebudayaan Indonesia menggunakan media digital khususnya melalui mobile games. Berdiri pada April 2011, Arsanesia sendiri diambil dari kata ‘Arsa’ (dari bahasa Sansakerta) dan Nesos (dari bahasa Yunani) yang artinya adalah pulau kebahagiaan. Media seperti Apple App Store, Google Play, Windows Marketplace, Nokia OVI Store, dan lainnya tersebut menurut Adam dapat dijadikan corong untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan kebudayaan Indonesia. “Efeknya diharapkan dapat meningkatkan awareness masyarakat Internasional terhadap Indonesia dan bisa membantu mendorong tingkat pariwisata di Indonesia”. Saat ini Arsanesia sudah mengembangkan tujuh games dengan tema budaya Indonesia yaitu Gamelan Player, Si Pitung, Temple Rush Prambanan, Wago Warrior, Slapillar, Little Lea, dan Flipallago.

 

arief-widhiyasa-ceo-agate-studio-9-courtesy-by-reo-ludiansa-2-240x300

ARIEF WIDHIYASA (CEO AGATE STUDIO) Salah seorang dari pembicara di acara seminar  nanti ialah Arief Widhiyasa, beliau adalah CEO dari Agate Studio, Game Developer terbesar di Indonesia yang berlokasi di kota Bandung. Beliau akan bercerita kenapa bisa sampai di Drop Out dari ITB dan kemudian sukses menjadi CEO di Agate Studio.

Arief Widhiyasa lahir di Denpasar, 4 April 1987 Pendidikan terakhirnya ITB (Drop Out).

Arief Widhiyasa adalah seorang General Manager di G-Softworks(2005-2007), Microsoft Student Partner di Microsoft Innovation Center(2007-2009), dan yang terakhir CEO di Agate Studio(2007-sekarang)

Spesialisasi Arief Widhiyasa  adalah Business Development, Negotiation, Networking, Game Programming, Game Development, dan Game Business.

Rangkuman Materi Asal Muasal Nama AGATE STUDIO Developer game lokal asal Bandung yang telah menghasilkan 100 lebih game baik untuk personal computer maupun untuk perangkat mobile. Pendiri Agate berjumlah 16 orang dan setelah dua tahun berdiri, Agate Studio telah memiliki 60 orang karyawan. Arief adalah salah satu pendiri Agate Studio dan sejak perusahaan ini resmi berdiri, Arief dipercaya oleh teman-temannya di Agate Studio untuk memimpin perusahaan ini karena dianggap paling banyak berperan dalam pengembangan Agate Studio dan paham tentang manajemen perusahaan. Agate sangat inline, jadi Agate akan selalu berusaha untuk bisa berkontribusi semaksimal mungkin agar visi Agate untuk berkontribusi dalam membuat dunia lebih bahagia bisa terwujud perlahan-lahan.

 

SAP : Wawan Dewanto

Profil Wawan Dewanto Pendidikan Jurusan Teknik Industri, ITB pada Februari 2000. Ia mendapatkan Beasiswa di Faculty of Technology, Policy and Management, Tecnische Universiteit Delft, Belanda pada Agustus 2003. Beasiswa di Faculty of Business and Economics, Monash University, Australia sejak Juli 2007.

Rangkuman Materi Pada tahun 2007, Wawan menulis buku tentang manajemen teknologi informasi berjudul ERP : Menyelaraskan Teknologi Informasi Dengan Strategi Bisnis. Setelah menjadi dosen, Wawan meneruskan tradisi menulis, beberapa diantaranya berhasil memenangkan berbagai lomba karya tulis seperti menjadi juara 1 The Best Idea in Business oleh Majalah SWA tahun 2005, juara 3 Lomba Analisis dan Proyeksi Inflasi oleh Bank Indonesia pada tahun 2006 dan juara 2 XL Award Writing Competition oleh PT Excelcomindo Pratama pada tahun 2007. Business Strategy & marketing Entrepreneurship Study Innovation Management Technology Management and New Product Development Intrapreneurship (S1 Manajemen) Knowledge and Innovation (S2 MBA) Family Business (S2 MSM).

 

Pendapat tentang Seminar WIFI 2013 :

Seminar ini sangat bagus, selain menambah wawasan di bidang informatika, tapi di bidang entrepreneur. Sebagai mahasiswa aktif seharusnya kita bisa meniru mereka untuk mengembangkan bakat yang kita miliki, karena semua hal yang kita senangi akan menjadi hal yang positif bagi orang banyak jika kita bisa mengatur semuanya dengan tepat. Yang terpenting dari semuanya adalah belajar dan menuntut ilmu dengan benar, meskipun di ceritakan drop out dari institusi dan menjadi CEO tak lantas kita berpikiran bahwa DO dan sukses itu baik. Bagi saya lulus kuliah dan menjadi sukses itu jauh lebih baik, dan inti dari seminar tersebut yang saya ambil adalah : “jika kita mau usaha kita pasti akan sukses dan menjadi orang berguna”.

Print Friendly, PDF & Email

VIDEO dampak buruk bagi perokok pasif

banyak orang sudah mengerti dampak buruk bagi perokok aktif. Bagaimana dengan perokok pasif?

Di sini saya akan  membahas sedikit tentang perokok pasif. Perokok pasif adalah orang yang menghisap asap rokok dari perokok aktif. Asap yang terhirup oleh perokok pasif lebih berbahaya, dampaknyapun sangat berbahaya, dari penyakit jantung, paru-paru, asma, bronchitis dan masih banyak lagi dampak lainnya. Meski demikian, perokok aktif pun memiliki dampak yang tak kalah bahayanya. Banyak perokok sembarangan merokok sehingga mengganggu orang lain yang terkena asap rokoknya. Dari permasalahan ringan itulah saya mengangkat tema dampak buruk bagi perokok pasif, ini di tunjukan bagi perokok aktif untuk lebih peduli terhadap perokok pasif.

Video yang saya buat adalah gabungan dari gambar, suara, teks, musik dan video. Dalam video saya di buat sedikit stop motion untuk memberi penekanan pada kata “pasif” agar mengingatkan kepada perokok aktif bahwa bukan hanya dirinya yang rugi, tetapi orang di sekitarnya. Pada bagian video saya ambil gambar puntung rokok yang sudah mati, itu mengingatkan perokok aktif untuk segera mematikan rokoknya sebelum rokok tersebut membunuh dirinya dan orang di sekitarnya.

Untuk selengkapnya silakan lihat video tentang dampak buruk perokok pasif klik disini.

terimakasih. 🙂

Print Friendly, PDF & Email

REVIEW STAR TREK INTO DARKNESS

REVIEW STAR TREK INTO DARKNESS
Shot in 3D : NO
J.J Abrams sengaja tidak memfilmkan Star Trek dengan kamera 3D karena menurut beliau, teknologinya untuk saat ini masih sangat membatasi dirinya dan tim visual effects untuk berkreasi. Sebagai gantinya, beberapa scene dalam film ini dishot dengan kamera IMAX.
Brightness : 5/5

Menggunakan kacamata 3D itu ibaratnya memakai kacamata hitam ketika menonton film di bioskop, sehingga gambar di layar akan menjadi lebih gelap.

Meski merupakan hasil konversi, level brightness dalam film Star Trek Into Darkness sama sekali tidak berupaya melambungkan sub-judulnya itu sendiri. Adegan-adegan pertarungan di luar angkasa yang notabene didominasi oleh warna hitam pun masih terlihat sangat jelas. Into Brightness!
Depth : 5/5

Depth adalah ilusi kedalaman gambar di layar yang membuat para penonton merasa tengah menyaksikan adegan – adegan film tersebut dari balik jendela raksasa atau bahkan merasa ikut terlibat dalam adegan tersebut.

Pertarungan di luar angkasa dan set-set tempat yang eksotis telah dimanfaatkan oleh J.J Abrams dan cinematographer-nya semaksimal mungkin untuk menampilkan kekuatan layer depth sepenuhnya dengan kualitas yang terus dipertahankan sampai film berakhir. Para penonton benar-benar telah dibuat terhisap masuk ke dalam aksi petualangan kru Enterprise sejak detik pertamanya dan saya cukup ragu kalau anda bisa merasakan pengalaman menonton yang sama apabila menyaksikan versi 2Dnya. Jadi bagi yang tinggal di Jakarta, menyaksikan Star Trek di layar IMAX sudah bukan sebuah pertanyaan lagi, tetapi sebuah keharusanSemakin besar semakin baik!
 
Pop Out : 3/5

Pop Out adalah ilusi gambar yang keluar dari layar. Dan biasanya efek pop – out-lah yang dinanti – nantikan para penonton awam karena unsur hiburannya ataupun karena persepsi mereka terhadap efek 3D adalah gambar keluar layar. Namun, perlu dicatat bahwa pembuatan efek pop out dalam sebuah film bisa dibilang gampang – gampang susah. Dibuat berlebihan, akan menimbulkan gimmick dan membuat film tersebut tampak murahan. Oleh karena itu, dibutuhkan kreatifitas dan perencanaan yang matang agar efek pop out yang dihasilkan tidak terkesan dipaksakan.

It’s quite a mixed bag. Jumlah adegan pop-outnya memang bisa dihitung jari, tetapi setiap kali mereka muncul, ntah dalam bentuk serpihan, senjata, percikan api, debu atau sekedar efek dari lingkungan set tempatnya, efek pop-outnya terasa benar-benar dibutuhkan dan tidak pernah sekalipun dipaksakan untuk muncul. Kualitasnya memang tidak sampai “senorak” film-film animasi DreamWorks ataupun Final Destination yang akan membuat anda terkejut, tetapi efek pop-out yang disuguhkan Star Trek Into Darkness tetap patut diperhitungkan karena ia tampil lebih elegan, dewasa dan soft.

 

Print Friendly, PDF & Email

Kompresi

Banyak orang sering berbicara mengenai kompresi data, tapi hanya tahu sebagian mengenai maksud dari kompresi data. Disini saya akan bahas sedikit tentang kompresi data.
Kompresi data adalah proses mengkodekan informasi menggunakan bit atau information-bearing unit yang lain yang lebih rendah daripada representasi data yang tidak terkodekan dengan suatu sistem enkoding tertentu atau memadatkan data sehingga hanya memerlukan ruangan penyimpanan lebih kecil sehingga lebih efisien dalam menyimpannya atau mempersingkat waktu pertukaran data tersebut. Pada multimedia diperlukan kompresi data, mengapa? Karena penggunaan multimedia bukan hanya sekedar gambar yang berukuran kecil tetapi multimedia menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tools) untuk menghasilkan suatu karya dari penggunanya, seperti video animasi, slide presentasi dll. Data tersebut membutuhkan memory yang besar, oleh karena itu multimedia membutuhkan kompresi data untuk mempermudah proses sharing data dengan meminimalisasikan memori yang digunakan.
Kompresi data yang dapat digunakan pada tipe data multimedia memiliki 2 jenis, input dan output.
Input yang berarti penerimaan dari manusia, input juga di bagi menjadi 2 yaitu :
  • aDialoque Mode : yaitu proses penerimaan data dimana pengirim dan penerima seakan berdialog (real time), seperti pada contoh video conference. Dimana kompresi data harus berada dalam batas penglihatan dan pendengaran manusia. Waktu tunda (delay) tidak boleh lebih dari 150 ms, dimana 50 ms untuk proses kompresi dan dekompresi, 100 ms mentransmisikan data dalam jaringan.
  • b. Retrieval Mode : yaitu proses penerimaan data tidak dilakukan secara real time. Dapat dilakukan fast forward dan fast rewind di client. Dapat dilakukan random access terhadap data dan dapat bersifat interaktif,dan output dibagi menjadi dua yaitu :
  1.  Lossy Compression
  • Teknik kompresi dimana data hasil dekompresi tidak sama dengan data sebelum    kompresi namun sudah “cukup” untuk digunakan. Contoh: Mp3, streaming media, JPEG, MPEG, dan WMA.
  • Kelebihan: ukuran file lebih kecil dibanding loseless namun masih tetap memenuhi syarat untuk digunakan.
  • Biasanya teknik ini membuang bagian-bagian data yang sebenarnya tidak begitu berguna, tidak begitu dirasakan, tidak begitu dilihat oleh manusia sehingga manusia masih beranggapan bahwa data tersebut masih bisa digunakan walaupun sudah dikompresi.
  • Misal terdapat image asli berukuran 12,249 bytes, kemudian dilakukan kompresi dengan JPEG kualitas 30 dan berukuran 1,869 bytes berarti image tersebut 85% lebih kecil dan ratio kompresi 15%.
2.   Lossless Compresion

  • Teknik kompresi dimana data hasil kompresi dapat didekompres lagi dan hasilnya tepat samaseperti data sebelum proses kompresi.Contoh aplikasi: ZIP, RAR,GZIP, 7-Zip.
  • Teknik ini digunakan jika dibutuhkan data setelah dikompresi harus dapat diekstrak/dekompres lagi tepat sama.Contoh pada data teks, data program/biner, beberapa image seperti GIF dan PNG.
  • Kadangkala ada data-data yang setelah dikompresi dengan teknik ini ukurannya menjadi lebih besar atau sama.
Berikut adalah contoh kompresi teks sederhana menggunakan RLE(run length encoding)
ada suatu deret angka :  1 2 1 1 1 1 1 3 4 4 4 4 1 1 3 3 3 5 1 1 1 1 3 3 = 24 byte
dihitung jumlah kemunculan data : (1,1) (2,1) (1,5) (3,1) (4,4) (1,2) (3,3) (5,1) (1,4) (3,2)
maka data hasil kompresi adalah :  1 1 2 1 1 5 3 1 4 4 1 2 3 3 5 1 1 4 3 2 = 20 byte
Print Friendly, PDF & Email